JD 1. Introduksi tentang Hukum Kamma

/ 17 Sep 2018 / In Jendela Dhamma / By

Kehidupan kita saat ini bukanlah kehidupan yang terakhir dan selama kita belum mampu mencapai Jalan dan Buah arahatta maka kehidupan ini pun bukanlah kehidupan yang terakhir. Di masa lalu kita sudah hidup lama sekali dan sampai hari ini pun kita belum menyelesaikan tugas kita, belum menyelesaikan PR kita, yaitu melampaui kamma baik dan kamma buruk yang membuat kita keluar dari saṃsāra. Hingga hari ini, kita masih terus melakukan kamma buruk maupun kamma baik; inilah mengapa kita masih terus terjebak di pusaran saṃsāra. Memahami hal seperti ini—yaitu kamma—adalah bagian dari pandangan benar, faktor yang pertama dari Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Kamma menjadi salah satu ajaran yang harus dipahami dengan baik, karena kamma menentukan pergerakan batin seseorang. Akibat adanya kamma maka seseorang terus bertumimbal lahir. Sebaik apa pun kamma tetap saja buahnya hanya muncul di dalam saṃsāra. Tujuan dari latihan Dhamma adalah untuk keluar dari saṃsāra. Hal tersebut hanya akan dicapai apabila kita telah berhasil memutuskan atau menghancurkan akar kamma. Ketika akar kamma sudah hancur maka perbuatan apa pun yang dilakukan oleh seseorang sudah tidak dapat disebut sebagai kamma lagi. Hal ini terjadi ketika seseorang mencapai tingkat kesucian arahat. Dengan hancurnya kamma maka seseorang terbebas dari saṃsāra; tidak akan ada kelahiran kembali dan itulah kebahagiaan sejati.

Hukum kamma mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah pencipta dari kehidupan kita sendiri. Dengan demikian sudah seharusnya kita harus menyerahkan kehidupan kepada di kita sendiri. Kita tidak diajarkan untuk memohon-mohon kebahagiaan kepada siapa pun juga, karena memang pada hakekatnya tidak ada yang bisa mengabulkan permohonan kita! Hidup ini sudah diatur sedemikian rupa sesuai dengan hukum-hukum yang bekerja di dalam kehidupan ini. Ada lima hukum yang mengatur kepastian di dalam kehidupan ini, salah satunya adalah hukum kamma. Hukum kamma adalah hukum sebab dan akibat. Apabila Anda ingin bahagia maka Anda harus memunculkan sebab-sebab kebahagiaan. Itulah mengapa sangat penting memahami cara bekerjanya hukum kamma karena dengan demikian maka kita akan tahu apa saja sebab untuk kebahagiaan; dan sebaliknya apa saja sebab untuk penderitaan.

Kalau kita membaca kitab suci kita, yang ada selalu saja Buddha berceramah kemudian murid mendengarkan. Setelah ceramah selesai akhirnya murid-murid berpamitan untuk kemudian tekun bermeditasi. Tidak ada hal yang lain lagi, seperti berdoa, memercikkan air berkah dan lain-lain. Coba Anda baca keseluruhan Tipiṭaka dan Anda akan menemukan hal tersebut. Ada seorang guru yang berceramah, murid mendengarkan, dan setelah itu murid mempraktikkannya. Mempraktikkannya pun bukan dengan cara berdoa.

Di Iṭṭha Sutta (AN 5.43), Buddha mengajarkan bahwa panjang umur (āyu), kerupawanan (vaṇṇa), kebahagiaan (sukha), kemasyhuran (yasa) dan kelahiran di surga tidak bisa didapatkan dengan menggantungkan pada harapan atau doa (na āyācanahetu vā patthanāhetu vā). Apabila lima hal tersebut bisa didapat dengan hanya berharap dan berdoa, lalu siapa di antara kita yang tidak bisa mendapatkannya? Semua orang akan bisa mendapatkannya karena apa sulitnya berdoa? Dari kenyataan bahwa sampai hari ini manusia masih saja menderita, masih saja ada makhluk-makhluk tertentu yang terlahir di alam neraka, maka semua fakta-fakta membuktikan bahwa berdoa bukanlah cara yang cerdas menjalani kehidupan ini. Cara yang cerdas untuk menjalani kehidupan adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan kebijaksanaan untuk memahami kehidupan ini dengan baik, termasuk dalam hal ini adalah hukum kamma.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kamma: Pusaran Kelahiran dan Kematian Tanpa Awal, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2018. Hlm.9-18