JD 9. Empat Klasifikasi Kamma – Berdasarkan Fungsi

/ 12 Nov 2018 / In Jendela Dhamma / By

1. Kamma Produktif

Sesuai dengan namanya, kamma ini mempunyai potensi untuk memproduksi atau memberikan hasil berupa kemunculan efek atau buah kamma. Kamma produktif menghasilkan buah kamma di dua momen, yaitu:  Momen kelahiran-kembali (patisandhi); dan Momen kejadian-kejadian di sepanjang kehidupan (pavatti).

Di momen kelahiran-kembali, buah kamma muncul berupa kemunculan kesadaran-penyambung-kelahiran-kembali, faktor mental yang terkait dan tiga kelompok materi—kesepuluhan-tubuh, kesepuluhan-jenis-kelamin dan kesepuluhan-landasan.

Sedangkan di momen kejadian (pavatti), kamma memfasilitasi kemunculan objek-objek pancaindra dan objek-batin berupa kemunculan kesadaran-kesadaran resultan yang menikmati objek-objek tersebut. Kejadian ini berlangsung sejak kelenyapan kesadaran penyambung-kelahiran-kembali hingga kemunculan kesadaran kematian. Di dalam kehidupan sehari-hari, buah kamma muncul berupa kejadian-kejadian yang kita alami melalui melihat, mendengar, mencium, mengecap, menyentuh dan memikirkan sesuatu. Semua itu adalah pengalaman kehidupan yang senantiasa muncul di setiap momen kehidupan kita. Dengan kata lain, di setiap momen kita selalu memetik buah dari kamma yang telah kita perbuat di masa lampau.

2. Kamma Suportif

Sama halnya dengan kamma produktif, kamma suportif juga bisa merupakan kamma baik atau kamma buruk. Yang membedakan adalah bahwa kamma suportif tidak menghasilkan buahnya sendiri melainkan hanya mendukung buah kamma produktif yang sedang berlangsung—dalam hal kualitas dan keberlangsungannya—atau memfasilitasi kamma lain untuk berbuah.

Jadi, ada sebuah kamma yang sudah berbuah dan buahnya sudah berlangsung, kemudian dengan didukung oleh kamma suportif maka buah kamma tersebut bisa berlangsung lebih lama atau meningkat kualitasnya. Jika ada kamma produktif yang baik sedang berbuah dengan menghasilkan kebahagiaan maka kamma suportif akan mendukung kebahagiaan tersebut menjadi semakin kuat dan bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lebih lama. Sebaliknya, kalau kamma tersebut berfungsi sebagai kamma suportif untuk buah kamma buruk maka kamma suportif akan membuat penderitaan yang dihasilkan oleh kamma produktif berlangsung lebih kuat dan lebih lama.

Kamma baik yang kita lakukan setiap hari bisa memperpanjang atau menambah usia, kesehatan, kesuksesan dan tentu saja juga kebahagiaan. Sebaliknya, kamma buruk bisa mendukung keberlangsungan kegagalan, kesulitan hidup dan penderitaan-penderitaan lainnya.

3. Kamma Represif

Kamma jenis ini bisa merupakan kamma baik atau kamma buruk. Kamma ini berfungsi untuk menekan, mengganggu, atau menghalangi keberlangsungan buah kamma yang sedang bekerja. Kamma represif juga tidak memproduksi hasilnya sendiri melainkan hanya mengganggu buah kamma lain yang sedang bekerja. Ada kamma lain yang sedang berbuah kemudian buahnya diganggu dan dihalangi supaya tidak bisa muncul secara maksimal—baik dalam hal durasi keberlangsungan maupun kualitasnya.

Rumus untuk kamma represif berbeda dengan kamma suportif. Di sini, kamma baik akan menekan buah kamma buruk, dan sebaliknya kamma buruk akan menekan buah kamma baik, Jadi kualitas kamma represif berlawanan dengan kualitas kamma produktif.

4. Kamma Destruktif

Kamma destruktif mempunyai kekuatan untuk menghancurkan buah kamma yang sedang bekerja—hingga berhenti dan tidak berbuah lagi. Kamma destruktif diibaratkan seperti angin kencang yang menahan laju anak panah hingga akhirnya berhenti dan jatuh.

Ada tiga variasi cara bekerja kamma penghancur/destruktif. Variasi pertama adalah kamma destruktif hanya menghentikan buah kamma yang sedang berlangsung; kamma itu sendiri tidak berbuah dan juga tidak memberi kesempatan kepada kamma lain untuk berbuah. Variasi yang kedua, kamma destruktif menghentikan buah kamma yang sedang berlangsung: kamma itu sendiri tidak berbuah tetapi memberi kesempatan kepada kamma lain untuk berbuah. Variasi yang ketiga adalah kamma destruktif menghentikan buah kamma yang sedang berlangsung; kamma itu sendiri berbuah dan dengan demikian tidak memberi kesempatan kepada kamma lain untuk berbuah.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kamma: Pusaran Kelahiran dan Kematian Tanpa Awal, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2018. Hlm. 147-174