JD 13. Proses Kematian dan Kelahiran Kembali

/ 10 Dec 2018 / In Jendela Dhamma / By

Ketika membicarakan kamma maka kita juga harus membicarakan proses kematian dan kelahiran-kembali. Hal ini karena potensi kamma melampaui satu kehidupan dan kemudian menyeberang ke kehidupan berikutnya. Dengan memahami proses kematian dan kelahiran kembali, maka Anda akan memahami kehidupan dengan lebih baik.

Di momen menjelang kematian, arus batin tidak lagi deras seperti di momen-momen yang lain. Ketika itu arus impuls yang sudah melambat mengambil objek khusus, yaitu salah satu dari tiga objek— kamma, kamma nimitta (tanda-kamma) dan gati nimitta (tanda tujuan).

  • Objek berupa kamma adalah objek berupa kehendak baik maupun kehendak yang tidak baik yang telah muncul sebelumnya—di kehidupan lampau atau saat ini.
  • Tanda kamma adalah simbol, instrumen atau alat yang dipakai pada saat seseorang melakukan kamma tertentu. Berbeda dengan objek kamma yang hanya berasal dari masa lampau, tanda kamma bisa berasal dari masa lampau dan saat ini.
  • Tanda tujuan adalah tanda atau simbol tempat atau alam di mana makhluk akan terlahir. Tanda tujuan selalu muncul sebagai objek-bentuk saat ini—bukan objek dari masa lampau maupun masa depan.

Ketika objek-objek impuls menjelang kematian telah muncul maka tiada satu makhluk pun yang bisa mengganggu dan mengubahnya. Akan tetapi, sebelum kemunculan objek-objek tersebut sesungguhnya seseorang yang berada di dekat orang yang hendak meninggal dunia bisa melakukan sesuatu untuk membantu mengalirkan arus batinnya ke arah yang baik—apabila sebelumnya mengalir ke arah yang tidak baik. Apabila batin dia sudah mengalir kearah yang baik maka kita semua yang berada di dekatnya hendaknya membantu supaya arus batin dia tetap baik. Hal ini kita lakukan demi kelahiran dia di alam yang baik—penuh kebahagiaan.

Ketika impuls menjelang kematian lenyap maka kematian muncul bersamaan dengan munculnya kesadaran kematian. Kemunculan kesadaran kematian bisa persis—tanpa jeda—setelah kelenyapan impuls menjelang kematian yang kelima atau beberapa saat setelah itu. Walaupun demikian, untuk memastikan bahwa seseorang telah benar-benar meninggal dunia maka tiga faktor di bawah ini harus terpenuhi:

  • Daya hidup (āyu) yang tidak lain adalah daya kehidupan mental (nāmajīvitindriya) dan daya hidup fisik/jasmani (rūpajīvitindriya) harus lenyap bersamaan dengan lenyapnya kesadaran kematian.
  • Panas tubuh (usmā) yang tidak lain adalah elemen api (tejodhātu) yang diproduksi oleh kamma berhenti berproses bersamaan dengan lenyapnya kesadaran kematian.
  • Kesadaran (viññāṇa) apa pun termasuk bhavaṅga—terminologi untuk kesadaran kematian—yang menjaga kesinambungan arus batin di satu kehidupan lenyap.

Hanya pada saat tiga faktor tersebut terpenuhi maka kematian terjadi.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kamma: Pusaran Kelahiran dan Kematian Tanpa Awal, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2018. Hlm. 271-282