JD 14. Lahir Kembali untuk Keluar dari Pusaran Saṃsāra

/ 17 Dec 2018 / In Jendela Dhamma / By

Sesaat setelah kelenyapan kesadaran kematian maka kesadaran penyambung-kelahiran-kembali muncul. Kesadaran ini menyambung dua kehidupan. Jadi, kehidupan baru tersambung sempurna dengan kehidupan persis sebelumnya. Seperti hari Minggu dan Senin yang tersambung tanpa jarak—pukul 23.59 adalah hari Minggu, satu detik kemudian adalah hari Senin. Dengan kata lain, kematian dan kelahiran kembali adalah dua kehidupan yang terjadi tanpa jarak, tanpa jeda. Lalu, bagaimana atau kapan sesungguhnya munculnya kelahiran-kembali?

“Para bhikkhu, kemunculan pembuahan (gabbha) terjadi melalui pertemuan tiga hal. Dalam hal ini, terjadi pertemuan antara ibu dan ayah, akan tetapi ibu tidak sedang dalam musimnya dan tidak ada gandhabba, selama hal tersebut terjadi maka tidak ada kemunculan gabbha. Berkaitan dengan hal ini, terjadi pertemuan antara ibu dan ayah; ibu berada dalam musimnya dan gandhabba tidak ada maka selama hal tersebut terjadi tidak ada kemunculan gabbha.

Akan tetapi, para bhikkhu, ketika terjadi pertemuan antara ibu dan ayah; ibu berada dalam musimnya dan ada gandhabba—melalui pertemuan tiga hal yang terjadi dengan cara demikian maka ada kemunculan gabbha. Para bhikkhu, ibu membawanya sebagai beban yang berat dengan penuh keraguan; (kemudian) setelah sembilan atau sepuluh bulan (dia) melahirkannya.”

Kutipan dari Mahātaṇhāsaṅkhaya Sutta tersebut di atas umumnya dipakai sebagai referensi untuk menjelaskan kemunculan kelahiran-kembali.

Yang dimaksud dengan pembuahan (gabbha) adalah makhluk yang lahir di dalam kandungan (gabbhe nibbattanakasattassa); dan kemunculannya (avakkanti) inilah yang disebut sebagai kelahiran-kembali. Jadi, kemunculan pembuahan (gabbha) merujuk pada makhluk hidup yang telah lahir (attabhāva) di dalam kandungan ibu—sebagai akibat dari pertemuan tiga hal, yaitu pertemuan ibu, ayah dan gandhabba. Terminologi pertemuan (sannipāta) antara ayah dan ibu merujuk pada gumpalan (piṇdabhāva) yang terjadi melalui kombinasi (samodhāna) mereka berdua, yaitu hubungan seksual antara ayah dan ibu (samāgama).

Sedangkan gandhabba adalah “makhluk yang berada di sana” (tatrūpagasatto)—yaitu yang berada di momen pertemuan antara ibu dan ayah yang kondusif untuk kelahiran kembali dan sesuai dengan kamma-nya (tatrūpapattiāvahena kammasaṅkhātena). Hendaknya dipahami bahwa gandhabba bukanlah makhluk yang berdiri di dekat pertemuan ayah dan ibu, memandang ke arah pertemuan tersebut dan kemudian memutuskan untuk lahir di sana melainkan semata-mata adalah kamma dari satu makhluk yang sudah masak dan siap menghasilkan buah berupa kemunculan kesadaran penyambung-kelahiran-kembali (paṭisandhicitta) di kandungan ibu. Hal ini karena kamma kita di kehidupan yang lalu memiliki kecocokan dengan hasil pertemuan ibu dan ayah—pertemuan mereka adalah ladang yang sangat kondusif untuk buah kamma kita, yaitu paṭisandhicitta (kesadaran penyambung-kelahiran-kembali)!

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kamma: Pusaran Kelahiran dan Kematian Tanpa Awal, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2018. Hlm. 283-290