JD 15. Kondisi-Kondisi untuk Kematangan Kamma

/ 14 Jan 2019 / In Jendela Dhamma / By

Tradisi Theravāda mengajarkan bahwa kelahiran-kembali muncul tanpa jeda setelah kematian. Kelahiran-kembali adalah kemunculan tiga dhamma berikut ini secara bersamaan:

  • Kesadaran penyambung-kelahiran-kembali.
  • Faktor-faktor-mental yang muncul bersama dengan kesadaran penyambung-kelahiran-kembali.
  • Tiga kelompok materi (rūpakālapa), yaitu kesepuluhan-tubuh (kāyadassaka), kesepuluhan-jenis-kelamin (bhavadassaka) dan kesepuluhan-landasan (vatthudassaka).

Tiga dhamma tersebut di atas merupakan buah kamma yang pertama kali muncul di satu kehidupan. Sejak kemunculannya, di sepanjang kehidupan, kamma—baik yang berasal dari kehidupan- kehidupan lampau maupun yang berasal dari kehidupan saat ini—akan terus berbuah setiap kali bertemu dengan kondisi-kondisi yang dibutuhkannya.

Kondisi-kondisi tersebut disebut sebagai keberhasilan (sampatti) dan kegagalan (vipatti)—yang masing-masing terdiri dari empat. Keberhasilan akan menyuburkan benih kamma baik dan sekaligus melumpuhkan benih kamma buruk; sedangkan kegagalan menyuburkan benih kamma buruk dan sekaligus melumpuhkan benih kamma baik. 

Keberhasilan Kelahiran (gatisampatti) dan Kegagalan Kelahiran (gativipatti)

Keberhasilan kelahiran atau bisa juga disebut sebagai keberhasilan tujuan adalah “kelahiran yang berhasil yaitu kelahiran di alam surga dan di alam manusia”. Jadi ketika seseorang terlahir sebagai manusia maka dia sudah mendapatkan satu keberhasilan. Dengan keberhasilannya ini maka banyak benih kamma baik yang telah dilakukannya menjadi subur dan mudah untuk berbuah. Sebaliknya, keberhasilan kelahirannya akan melumpuhkan banyak benih kamma buruk yang telah dilakukannya sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk berbuah. Inilah mengapa, sebagai manusia, dia  banyak atau sering memetik buah kamma baik. 

Sebaliknya kegagalan kelahiran atau tujuan adalah “kelahiran yang gagal” yaitu terlahir di empat alam apāya. Mereka yang terlahir di empat apāya mengalami banyak penderitaan bukan karena mereka tidak mempunyai timbunan kamma-baik dari masa lalu melainkan disebabkan oleh kegagalan kelahiran. Dengan kegagalan kelahiran maka banyak kamma baik mereka menjadi lumpuh dan mandul hingga akhirnya tidak mendapatkan kesempatan untuk berbuah. Sebaliknya kamma-buruknyalah yang menjadi subur dan berbuah satu per satu.

Keberhasilan Penampilan (upadhisampatti) dan Kegagalan Penampilan (upadhivipatti)

Keberhasilan penampilan adalah keberhasilan karakter atau dengan kata lain “memiliki kepribadian yang baik” dan juga mempunyai penampilan yang menarik seperti misalnya seseorang yang berwajah ganteng dan cantik. Sebaliknya kegagalan penampilan adalah “memiliki kepribadian yang rendah” (hinattabhavata), dan juga mempunyai penampilan dan wajah yang tidak menarik.

Keberhasilan Waktu (kālasampatti) dan Kegagalan Waktu (kālavipatti)

Keberhasilan waktu adalah “waktu yang telah berhasil yaitu waktunya para raja (pemimpin) dan manusia yang baik.” Saat-saat seperti itu adalah saat di mana kita mempunyai pemimpin-pemimpin yang baik, seperti presiden, menteri, gubernur hingga mempunyai pemimpin kantor maupun pemimpin keluarga yang baik. Sementara kegagalan waktu adalah “waktu yang gagal yaitu waktunya para raja dan manusia yang tidak baik.” Saat-saat seperti ini adalah saat di mana kita memiliki raja atau pemimpin yang tidak baik, dan juga orang-orang di sekeliling yang tidak baik.

Keberhasilan Cara/Metode (payogasampatti) danvKegagalan Cara/Metode (payogavipatti)

Keberhasilan cara/metode adalah “cara atau metode yang  benar,” yaitu mahir menggunakan cara-cara yang tepat di dalam menghadapi segala sesuatu. Sementara kegagalan cara/metode adalah “usaha atau metode yang tidak benar,” yaitu menggunakan cara-cara yang tidak tepat di dalam menghadapi segala sesuatu.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kamma: Pusaran Kelahiran dan Kematian Tanpa Awal, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2018. Hlm. 291-304