JD 16. Mengakhiri Pusaran Saṃsāra

/ 28 Jan 2019 / In Jendela Dhamma / By

Selama seseorang tidak mampu menghancurkan akar dari kamma, avijjā dan taṇhā, maka selama itulah dia akan terus melakukan kamma dan juga memetik buah kamma. Dengan demikian pusaran saṃsāra akan terus berputar. Kematian akan selalu dikuti dengan kelahiran yang baru. Di mana ada kelahiran di sana ada penderitaan.

Kilesa! Dialah biang kerok dari semua penderitaan ini! Disebabkan oleh kilesa maka kamma tercipta. Dengan kata lain, apabila tidak ada kilesa maka kamma pun tidak akan ada. Ketika seseorang sedang melakukan kamma buruk maka kamma buruk tersebut muncul karena didorong oleh kilesa. Hal seperti ini mudah untuk kita pahami. Akan tetapi bagaimana kita memahami bahwa di balik kamma baik pun ada kilesa sebagai tenaga penggeraknya? Ketika seseorang melakukan kamma berdana, dia berharap bahwa kekuatan dananya bisa menjadikan dia sebagai manusia yang kaya raya atau terlahir sebagai dewa di surga. Pemahaman tentang adanya manusia kaya raya atau adanya dewa yang hidup di surga berasal dari ketidaktahuan (avijjā). Sesungguhnya, tidak ada manusia, dewa atau brahmā! Yang ada hanyalah batin-dan-jasmani yang muncul dan lenyap—tidak kekal.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Yang harus kita lakukan adalah mengembangkan pengetahuan dan penglihatan tentang Empat Kebenaran Mulia yang sesuai realitas dengan tiga putaran dan dua belas aspek hingga sempurna.

Tiga putaran (tiparivaṭṭa) mencakup pengetahuan tentang kebenaran (saccañāṇa), pengetahuan tentang tugas yang harus dilakukan (kiccañāṇa) dan pengetahuan tentang telah selesainya tugas yang harus dilakukan (katañāṇa). Apabila kita menerapkan tiga putaran tersebut ke dalam masing-masing dari empat kebenaran mulia maka kita mendapatkan dua belas aspek (dvādasākāra) dari empat kebenaran mulia.

Dari Empat Kebenaran Mulia, kebenaran mulia yang keempat tentang jalan menuju ke akhir dari dukkha (dukkhanirodhagāminī paṭipadā ariyasacca) adalah kamma yang mempunyai kemampuan untuk menghancurkan kamma. Kamma ini adalah kehendak (cetanā) yang muncul bersama dengan masing-masing dari Jalan Mulia Berunsur Delapan

Pengetahuan Jalan muncul sebagai dampak dari kesempurnaan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang telah dikembangkan melalui vipassanā. Kamma yang muncul bersama dengan pengetahuan Jalan mempunyai kemampuan untuk menghancurkan timbunan kamma buruk yang telah tertanam sejak awal saṃsāra.

Pengetahuan Jalan dibedakan menjadi empat berdasarkan kemampuannya dalam menghancurkan belenggu (saṃyojana)— tidak-mahir, mahir, makin mahir dan paling mahir. Sebagai contoh, seorang sotāpanna masih mempunyai kesombongan; kesombongan tersebut akan dihancurkan oleh Jalan sakadāgāmi. Demikian pula, seorang sakadāgāmi masih mempunyai kesombongan; kesombongan tersebut akan dihancurkan oleh Jalan anāgāmi. Selanjutnya, anāgāmi masih mempunyai kesombongan yang tersisa yang hanya bisa dihancurkan oleh Jalan arahatta. Demikianlah proses penghancuran kilesa yang dilakukan oleh Jalan.

Sesungguhnya hanya ada satu fungsi dari Jalan yaitu meninggalkan kecenderungan laten. Di setiap tingkatan pencerahan, Jalan menghancurkan kecenderungan laten, belenggu atau kotoran batin tertentu sehingga dengan hancurnya kotoran batin tersebut maka seseorang keluar dari lima agregat yang diproduksi oleh kamma-kamma tertentu. Dengan demikian proses keluar dari saṃsāra pun dimulai—diawali dengan mendapatkan maksimal tujuh kelahiran-kembali, kemudian dua kelahiran, satu kelahiran dan akhirnya tidak terlahir sama sekali.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kamma: Pusaran Kelahiran dan Kematian Tanpa Awal, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2018. Hlm. 305-330