JD 17. Parābhavasutta

/ 18 Feb 2019 / In Jendela Dhamma / By

Khotbah tentang Keruntuhan
(Sn 1.6; KN 5.6)

Demikianlah yang telah saya dengar. Pada satu waktu, Begawan tinggal di wihara Anāthapiṇdịka, di hutan Jeta, dekat Sāvatthi. Pada waktu itu, ketika malam telah larut, satu dewa tertentu dengan keelokannya yang indah sekali menerangi keseluruhan hutan Jeta, mendatangi tempat di mana Begawan berada. Setelah mendekat dan memberi hormat, dia berdiri di satu sisi. Berdiri di satu sisi, dewa tersebut berkata kepada Begawan dalam bentuk syair:

91. Kami bertanya kepada Gotama tentang seseorang yang mengalami keruntuhan. Kami telah datang kemari untuk bertanya kepada Begawan, “Apakah sebab untuk keruntuhan?”

92. “Seseorang yang berhasil sangatlah mudah diketahui. Seseorang yang runtuh sangatlah mudah untuk diketahui. Seseorang yang menyenangi dhamma (dhammakāmo) berhasil; pembenci dhamma (dhammadesī) runtuh.”

Yang dimaksud dengan seseorang yang berhasil sangatlah mudah diketahui adalah seseorang yang berkembang dan tidak jatuh (vaḍḍhanto aparihāyanto puriso) bisa diketahui dengan mudah atau tanpa kesulitan.
Sedangkan yang dimaksud dengan seseorang yang runtuh sangatlah mudah untuk diketahui adalah seseorang yang jatuh dan binasa (parihāyati vinassati) pun bisa diketahui dengan mudah atau tanpa kesulitan.

Seseorang yang menyenangi Dhamma (dhammakāmo) berhasil adalah seseorang yang menyukai, mencintai, beraspirasi, mendengarkan dan menjalankan Dhamma yang disebut 10 jalan kamma baik ( dasakusalakammapatha-dhammaṃ kāmeti, piheti, pattheti, suṇāti, paṭipajjati).

Sepuluh jalan kamma baik dibagi berdasarkan tiga pintu kamma yaitu pintu tubuh, pintu ucapan dan pintu mental.
Sepuluh Jalan Kamma Baik (Kusalakammapatha) terdiri dari:

Tiga kamma-baik melalui tubuh (kusalakāyakamma), yaitu:

  1. Menahan diri dari pembunuhan (pāṇātipātā veramaṇī),
  2. Menahan diri dari pencurian (adinnādānā veramaṇī), dan
  3. Menahan diri dari perzinaan (kāmesumicchācārā veramaṇ)

Empat kamma-baik melalui ucapan (kusalavacīkamma), yaitu:

  1. Menahan diri dari perkataan tidak benar (musāvādā veramaṇī),
  2. Menahan diri dari ucapan fitnah (pisuṇāya vācāya veramaṇī),
  3. Menahan diri dari ucapan kasar (pharusāya vācāya veramaṇī), dan
  4. Menahan diri dari omong kosong (samphappalāpā veramaṇī).

Tiga kamma-baik melalui mental (kusalamanokamma), yaitu:

  1. Tiadanya dambaan (anabhijjhā),
  2. Tiadanya niat jahat (abyāpāda), dan
  3. Pandangan-benar (sammādiṭṭhi).

Orang seperti itu mudah diketahui dengan mengamati atau mendengar tentang sifat dan perilakunya. Kita dapat melihat kawan atau saudara kita yang sering melakukan kamma baik seperti berdana, menjaga sīla, sangat mudah untuk mengetahuinya bukan? Mereka inilah orang-orang yang sedang berjalan menuju ke arah keberhasilan.

Yang dimaksud dengan pembenci Dhamma (dhammadesī) runtuh adalah seseorang yang tidak menyukai sepuluh jalan kamma baik, tidak menyenangi, tidak mencintai, tidak beraspirasi, tidak mendengarkan dan tidak menjalankannya. Mereka ini adalah orang- orang yang sedang berjalan menuju ke keruntuhan atau kehancuran kehidupannya.

Jadi, syair pertama dan kedua dari Sutta ini telah mengajarkan kepada kita bahwa untuk menghindari keruntuhan kita perlu menjadi orang yang menjalankan 10 jalan kamma baik dan menghindari 10 jalan kamma buruk.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kompilasi Ceramah tentang SUTTANTA,
Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2019. Hlm 21-26