JD 19. Parābhavasutta

/ 4 Mar 2019 / In Jendela Dhamma / By

Khotbah tentang Keruntuhan
(Sn 1.6; KN 5.6)

95. Demikianlah, kami mengetahui hal ini. Inilah sebab kedua untuk keruntuhan. “Beritahukanlah yang ketiga, Begawan. Apakah sebab untuk keruntuhan?”

96. “Apabila seseorang suka tidur, berkumpul dan pasif; seorang yang malas, mempertontonkan tanda kemarahan; inilah sebab untuk keruntuhan.”
Selanjutnya, yang dimaksud dengan suka tidur adalah orang yang gemar tidur ketika berjalan, duduk, berdiri dan rebahan. Orang seperti ini bisa tidur di mana dan kapan saja.

Oleh karena dia suka tidur maka sebagian besar waktunya dia gunakan untuk hal-hal yang bisa menghancurkan kehidupannya sendiri.
Yang dimaksud dengan suka berkumpul adalah seseorang yang menyukai pergaulan kelompok/bersosialisasi, mengurus dan melekat pada percakapan yang tidak bermanfaat (saṅgaṇikārāmataṃ, bhassārāmatamanuyutto).
Alangkah baiknya bila saat berkumpul topik pembicaraan kita adalah sesuatu yang dapat membangkitkan cinta kasih, belas kasih atau kebijaksanaan.

Yang dimaksud dengan pasif adalah tidak mau berusaha atau seseorang yang tanpa energi dan kekuatan (vīriyatejavirahito); tidak mempunyai kebiasaan untuk memperbaiki diri (uṭṭhānasīlo na hoti); mudah dihasut oleh orang lain; jarang mengerjakan tugasnya, pekerjaan rumah untuk perumah tangga (gahaṭṭhakammaṃ) atau tugas untuk seseorang yang telah meninggalkan rumah (pabbajitakammaṃ).

Yang dimaksud dengan malas adalah tipe pemalas, orang yang senantiasa dikuasai oleh kemalasan sehingga dia hanya berdiri di tempat dia berdiri, hanya duduk di tempat dia duduk, dia tidak membuat gerakan lain dengan usahanya sendiri. Meskipun kita telah banyak melakukan kamma baik, bukan berarti kita boleh bermalas-malasan, sampai tidak berusaha untuk menyelamatkan diri, memperbaiki kehidupan dan sebagainya. Sebaliknya kita tetap harus terus mengembangkan energi (viriya) agar dapat menjadi orang yang energetik.

Mempertontonkan kemarahan: kitab komentar memberikan perumpamaan orang yang mempertontonkan kemarahan ibarat bendera dari kereta yang berkibar-kibar saat kereta berjalan atau seperti asap dari api yang terlihat oleh siapa saja. Jadi ketika kemarahan dipertontonkan oleh seseorang maka dia disebut sebagai seseorang yang mempertontonkan tanda kemarahan (dhajova rathassa, dhūmova aggino, kodho paññāṇamassāti kodhapaññāṇo) kepada orang lain.
Orang yang mempertontonkan kemarahan adalah orang yang pemarah, orang yang temperamental, hatinya terluka atau mudah tersakiti (dosacarito khippakopī arukūpamacitto puggalo evarūpo hoti). Orang seperti ini mudah tersinggung dan mudah bereaksi saat menerima perlakuan buruk dari orang lain.

Dengan lima sebab keruntuhan ini (yaitu suka tidur, suka berkumpul, pasif, malas dan suka mempertontonkan kemarahan) seorang perumah tangga tidak akan berkembang sebagai umat perumah tangga; apabila dia adalah pabbajita maka dia juga tidak akan menjadi pabbajita yang baik. Orang seperti ini mengalami kejatuhan dan kegagalan. Inilah sebab- sebab keruntuhan!

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kompilasi Ceramah tentang SUTTANTA,
Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2019. Hlm 35-44