JD 4. Kamma: Menurut Buddhisme

/ 8 Oct 2018 / In Jendela Dhamma / By

Apa yang dimaksud dengan hukum kamma menurut ajaran Buddha? Kamma adalah kehendak untuk melakukan satu perbuatan, baik perbuatan yang terjadi melalui pintu-tubuh, pintu-lisan maupun pintu-pikiran. Karakteristik dari hukum kamma umumnya diekspresikan melalui kalimat di bawah ini:

“Apa pun benih yang ditanam, itulah buah yang akan dipetiknya.  Kebaikan untuk pelaku kebaikan; kejahatan untuk pelaku kejahatan. Olehmu, anakku, benih ditaburkan, yang buahnya akan kamu rasakan.”

Dengan kata lain, apabila Anda menanam biji mangga maka Anda akan memetik buah mangga. Apabila Anda menanam biji pepaya maka Anda akan memetik buah pepaya. Anda tidak bisa mengharapkan buah mangga ketika yang Anda tanam adalah biji pepaya.

“Para bhikkhu, siapa pun yang berkata demikian, “Apa pun kamma yang seseorang lakukan, dia akan merasakan kamma yang sama tersebut,” apabila demikian, para bhikkhu, tidak ada kehidupan suci, kesempatan untuk mengakhiri penderitaan secara menyeluruh tidak terlihat.”

Apabila setiap kamma yang telah dilakukan di masa lalu pasti berbuah maka tidak akan ada kehidupan suci lagi. Pencerahan tidak akan pernah terjadi! Tidak ada harapan bagi kita untuk bisa lolos dari buah kamma. Hal ini karena jumlah kehidupan yang telah kita lalui sudah tidak terhitung lagi jumlahnya,

Apabila di dalam satu detik saja ada miliaran benih kamma yang tertanam, lalu berapa jumlah benih kamma yang telah kita tanam sejak triliunan tahun yang lalu? Sudah pasti jumlahnya tidak terhingga dan oleh karena itulah perjuangan untuk menghancurkan kamma tidak akan pernah berhasil dan inilah mengapa Buddha mengatakan kehidupan suci tidak akan pernah ada.

Untung saja cara bekerjanya kamma tidak demikian. Kamma yang telah tertanam tidak harus berbuah. Apabila tidak kita rawat maka benih tersebut tidak akan mendapat kesempatan untuk tumbuh—musim berbuahnya tidak akan kunjung datang. Bahkan semua biji kamma yang sudah kita tanam pun bisa dihancurkan sehingga tidak akan bisa berbuah lagi. Hal seperti itu terjadi ketika kita mencapai tingkat kesucian arahatta dan keluar dari saṃsāra.

Kamma mempunyai potensi untuk berbuah. Artinya adalah bahwa kamma apa pun yang pernah kita lakukan di masa lalu mempunyai tenaga untuk mendorong kemunculan efek atau buah dari kamma tersebut.

Sebelum potensi kamma tersebut berbuah maka kita tidak bisa tahu di mana buah kamma tersebut tersimpan. Meskipun timbunan atau deposito kamma yang sudah kita lakukan di masa lalu banyak sekali, tetapi tidak ada satu gudang atau tempat apa pun untuk menyimpan kammakamma dan buah dari kammakamma tersebut. Pada saat kamma tersebut belum berbuah maka kita tidak bisa merasakan—dengan indra-indra yang belum dikembangkan melalui meditasi—adanya kammakamma dan buahnya. Hanya pada saat potensinya sudah mulai masak dan berbuah, baru kita bisa merasakannya, entah di mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan hati.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kamma: Pusaran Kelahiran dan Kematian Tanpa Awal, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2018. Hlm. 47-62