JD 5. Kamma: Interpretasi Psikologis

/ 15 Oct 2018 / In Jendela Dhamma / By

Kamma adalah fenomena batin dan oleh karena itu maka interpretasi kamma dari sudut pandang psikologis menjadi sangat menarik. Di dalam batin kita terdapat banyak sekali faktor-faktor-mental atau faktor-faktor psikologis. Selain kesadaran (citta) masih ada 52 faktor-mental yang bisa muncul bersama-sama. Salah satu dari 52 faktor-mental tersebut adalah kehendak (cetanā) atau kamma.

Kehendak adalah salah satu dari 52 energi batin (cetasika) yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Perbedaan antara kehendak dengan energi-energi batin yang lain adalah efek yang ditimbulkan oleh kelenyapannya. Ketika 51 energi batin selain kehendak lenyap maka mereka lenyap tanpa meninggalkan potensi untuk berbuah. Akan tetapi hal ini berbeda dengan kehendak. Kehendak muncul di setiap momen kesadaran. Artinya di setiap detik ada kehendak, ada kamma yang bertanggung jawab dalam merancang serta mengarahkan batin serta pikiran untuk mencapai yang dikehendaki. Apabila seseorang berkehendak untuk marah maka kehendak dia akan mencoba untuk mengoordinasikan semua energi batin yang muncul bersama pada saat itu—seperti misalnya persepsi, perasaan, perhatian, kecemburuan dan lain-lain—untuk bekerja keras membantu supaya kemarahan bisa meledak.

Kehendak juga mempunyai kekuatan untuk memunculkan lagi kehendak yang identik. Kehendak awal akan mengondisikan kemunculan kehendak yang sejenis untuk muncul kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Seseorang yang tadinya sabar tiba-tiba  marah-marah. Kemarahan yang muncul tersebut akan mengondisikan kemunculan kemarahan dia yang berikutnya. Makin lama kemarahan akan semakin sering muncul hingga akhirnya dia dikenal sebagai orang yang pemarah. Kemunculan yang berulang dan semakin kuat seperti itu terjadi karena batin adalah fenomena yang terkondisi; terkondisi oleh lingkungan, oleh kebiasaan-kebiasaan dan lain-lain. Oleh karena itu, pengendalian diri menjadi satu latihan yang sangat bagus karena bisa menghindarkan kita dari berbagai penyakit psikologis dan pembentukan karakter yang buruk.

Sesungguhnya, seseorang membangun kebiasaan-kebiasaan berdasarkan kamma yang sering dia lakukan. Sifat atau karakter seseorang adalah kumpulan dari kammakamma yang dia lakukan. Apabila seseorang mempunyai sifat yang penuh cinta kasih, maka hal itu menandakan bahwa dia adalah seseorang yang sering berbuat kamma baik yang didorong oleh cinta kasih. Apabila dia mempunyai sifat pemarah, maka sifat tersebut terbentuk karena dia sering melakukan kamma yang didorong oleh kemarahan. Jadi kumpulan kamma akan membentuk karakter atau sifat seseorang. Inilah efek psikologis dari kamma yang mempunyai potensi untuk membentuk sifat seseorang.

Sekarang, periksa sifat Anda, kebiasaan-kebiasaan Anda masing-masing, dan lihatlah sampai Anda bisa melihat dengan sejelas-jelasnya bahwa sebenarnya sifat Anda adalah kumpulan dari kammakamma Anda yang paling kuat. Oleh karena itulah, Buddhisme mengajarkan kita untuk tekun dan berdisiplin dalam membangun satu kamma kebiasaan yang baik. Dengan membangun satu kebiasaan yang bagus seperti itu maka dampaknya, setelah waktu yang cukup lama, batin akan berkecenderungan mengalir ke arah apa yang menjadi kebiasaanya.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kamma: Pusaran Kelahiran dan Kematian Tanpa Awal, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2018. Hlm. 63-68