JD 7. Kamma: Analisis Lebih Jauh

/ 29 Oct 2018 / In Jendela Dhamma / By

Kamma membentuk sifat, karakter dan kebiasaan-kebiasan seseorang. Kita adalah makhluk yang terkondisi; yang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan yang muncul melalui reaksi-reaksi kita.

Tiap-tiap individu mempunyai reaksi yang berbeda-beda terhadap satu objek yang sama. Hal ini terjadi karena kamma mempunyai suatu kekuatan untuk membentuk kualitas psikologis seseorang. Kamma adalah aktivitas yang disertai dengan kehendak. Saat hendak melakukan sesuatu, awalnya timbul kehendak dan kemudian lenyap; tetapi ketika lenyap kehendak tidak lenyap begitu saja melainkan meninggalkan potensi di arus kesadaran kita. Potensi yang terbentuk tersebut berasal dari kehendak yang sudah bercampur dengan faktor-faktor-mental yang lain, seperti lobha, dosa, moha, alobha, adosa, amoha dan lain-lain. Potensi-potensi tersebut bertumpuk membentuk matriks tertentu yang akhirnya membentuk karakter atau sifat seseorang. Jadi, sifat seseorang sesungguhnya merupakan gabungan dari kammakamma masa lampau orang tersebut. Kualitas psikologis yang dibentuk oleh kamma membentuk kepribadian seseorang.

Kamma mempunyai pola kesetaraan antara sebab dan akibat. Inilah efek kedua dari kamma. Apabila seseorang melakukan suatu perbuatan yang secara moral tidak baik maka efeknya adalah penderitaan. Apabila seseorang melakukan satu perbuatan yang secara moral baik maka efeknya adalah kebahagiaan.

Keadilan hukum kamma tidak hanya berlaku di dalam kehidupan kali ini saja melainkan juga di kehidupan-kehidupan lampau dan mendatang. Apabila seseorang mempunyai hobi marah-marah, maka kamma-nya tersebut akan membawa dia terlahir di alam yang cocok dengan hobinya tersebut. Kemarahan akan melahirkan dia di alam neraka supaya hobi marah-marahnya bisa tersalurkan dengan baik dan sempurna. Seseorang yang penuh nafsu, apabila kamma tersebut memunculkan kelahiran, akan terlahir di alam di mana dia bisa memunculkan nafsunya secara terus menerus, yaitu di alam-alam binatang, hantu maupun asura. Sebaliknya, mereka yang hobinya berdana, mempraktikkan sīla, bermeditasi, melakukan kammakamma baik lainnya akan terlahir di alam yang penuh kebahagiaan—alam manusia, alam surga atau bahkan alam brahmā (buat mereka yang menguasai jhāna).

Kamma bisa memberikan hasil di beberapa waktu yang berbeda. Ada kamma yang bisa berbuah di kehidupan yang sama dengan terjadinya kamma. Ada pula kamma yang hanya berbuah di kehidupan mendatang. Bahkan ada juga kamma yang hanya muncul tetapi tidak menghasilkan buah apa pun (ahosi), Inilah mengapa seringkali seseorang berpikir ada ketidakadilan di dalam hukum kamma. Mengapa ada orang baik yang hidupnya menderita? Mengapa juga ada orang jahat yang hidupnya bahagia? Jawabannya ada beberapa, yaitu karena kammakamma yang mereka lakukan belum berbuah; atau karena kamma baik/kamma buruknya tidak dirawat sehingga tidak berbuah.

Oleh karena itu kalau Anda merasa sudah banyak sekali melakukan kamma buruk maka janganlah stres dan jatuh dalam depresi. Maafkan diri Anda yang sudah melakukan perbuatan tidak baik tersebut. Kemudian, jangan merawat kamma buruk tersebut. Bagaimana cara untuk tidak merawat kamma buruk? Salah satu caranya adalah dengan bertekad untuk tidak melakukan kammakamma buruk lagi!

Kamma dibedakan menjadi kamma masa lampau dan kamma saat ini. Kamma masa lampau adalah kamma yang telah tercipta, bisa satu menit yang lalu atau bahkan satu juta tahun yang lalu. Sedangkan kamma saat ini adalah kamma yang tercipta di saat ini—di saat kita bereaksi terhadap objek-objek yang masuk di pintu pancaindra maupun di pintu-batin.

Yang menarik adalah bahwa sebenarnya apa yang secara awam kita sebut sebagai kebahagiaan dan penderitaan itu muncul disebabkan oleh kamma baru yang tercipta; bukan oleh buah dari kamma masa lampau. Seringkali seseorang mengatakan bahwa dia sedang memetik buah kamma baik ketika sedang merasakan perasaan yang nyaman, sukacita dan penuh kebahagiaan. Sebaliknya, dia akan mengatakan bahwa kamma buruk sedang berbuah ketika kesedihan sedang melanda hatinya. Pemahaman seperti ini tidak benar. Apa yang dia anggap sebagai buah kamma tersebut di atas sesungguhnya adalah kamma baru yang tercipta!

Setelah memahami kamma masa lalu dan kamma saat ini, tentu kita akan lebih bisa menyikapi kehidupan ini dengan lebih positif lagi. Semoga setelah mendengarkan pembabaran Dhamma ini, Anda tidak dipenjara oleh kamma masa lampau Anda. Semoga setiap orang tidak lagi stres karena terus-menerus memikirkan kamma buruk yang telah diperbuat karena sesungguhnya seandainya berbuah, buah dari kamma buruk tidak sepahit yang kita bayangkan sebelumnya.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kamma: Pusaran Kelahiran dan Kematian Tanpa Awal, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2018. Hlm. 81-114