Testimoni Peserta

Grace Kandoly
Picture with my teacher. Ashin Kheminda
One of the few people that I respect the most.
He is always so selfless, with so much metta, patience, and hardworking.
Truly an inspiring person to look up to. 🙏🏻

We are all like little kids who always bother Bhante. So much trouble to him.
Sometimes stubborn head and difficult to give advices to.
But Bhante is always full of metta in teaching us all.
Learning Dhamma from Bhante had been marvelous.
It impacted my 3years of life, so much more than my 28years of life.
Looking back, I had walked a long way. Step at a time, sometimes I tumbled, I fell, I crawled, learning to pick myself up, and taking another step.
Am a different me as what I was, but still remain the same at the same time.
I do realize I still have waaaayyyy much to learn, learning Dhamma and realizing it through meditation.

I just had literal conversation with my husband on how much I respect him, and the only thing way I can ever repay his kindness is to be a better person than I was, to keep on learning, maintaining my sila. May it becomes a better foundation for my meditation.🙏🏻

“Fill your bucket a drop at a time.” This a quote from Bhante, a long time ago, but it remained in my mind, as a reminder. Whenever I feel discouraged, I shall always remember it. Little by little we di grow, little by little we do change. By the littlest amount, one day it shall be a tremendous one.
Keep on swimming in Dhamma. 🙏🏻 Grace Kandoly

Feronica Laksana
Mengakhiri dan mengawali tahun baru dg “a journey to my inner peace, my mind”. Pengalaman yg luar biasa, penuh perjuangan, rasa haru, damai dan bahagia yg tak terlukiskan.

Terima kasih, puja, hormat kepada Lord Buddha yg telah menemukan dan mengajarkan cara pemurnian batin & kepada Ashin Kheminda yg telah begitu sabar, penuh perhatian menjabarkan dan menjelaskan langkah-langkah kepada kami.

Bukan hal yg mudah, tapi bukan hal yang mustahil utk mengalami kedamaian dan kebahagiaan (Blissfull) bagi kita perumah-tangga. Ternyata ini bukan hanya domain para pertapa dan orang suci.

Batin seharusnya memancar ke dalam bukan keluar. Itu pesan guru yg selalu saya ingat.

Mengawali pagi 4.30 A.M. dg chanting/morning puja, meditation, breakfast dg berpindapatta (berjalan tanpa alas kaki, melalui jalan aspal yg penuh kerikil & bunga/kayu kering, awalnya terasa menyakitkan tetapi akhirnya jd hal yg dinantikan, spt pijat refleksi ), kembali ke meditation hall dg dibasuh kaki (terharu, merasa tdk layak diperlakukan spt ini)

Retret tahun ini terasa lebih berat dr tahun sebelumnya, sudah frustrasi krn sulit mendapatkan posisi duduk yg nyaman spt tahun lalu, lutut sakit, masuk angin, merasa sudah mengecewakan guru, hampir give up. Tapi di hari terakhir, sy melepas semua harapan, feel content, nothing to loose, sehabis makan siang, bersila, tiba-tiba pengalaman posisi bersila yg nyaman spt tahun lalu terasa kembali. Meditasi menjadi begitu nyaman, perasaan hening, damai, bahagia begitu penuh terasa mengalir spt air bah. Pengalaman yg tak terlupakan.

A fruitful retreat. So thankful.

My deep bow to my Guru, our Dayaka, kalyanamitta. Feronica Laksana

Juliana Ong (Anna)
Anumodana bhante kheminda yang sudah membimbing kita selama pabbajja kali ini. Uraian bhante & meditasi telah membuat kita sadar untuk melihat ke dalam bathin diri kita sendiri yg sebenarnya. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Cara pandang kita jauh lebih positif & bahagia. Anna mohon maaf bila ada kekhilafan dalam ucapan maupun perbuatan. Semoga bhante sehat , bahagia selalu & semakin semangat dalam pengajaran dharma.

Semoga semua makhluk hidup bahagia.
Sadhu sadhu sadhu Juliana Ong (Anna)

Magdalena Wartono (Aling)
Beberapa teman bertanya ke saya berlibur kemana saja, krn Hp sempat off utk 12 hari… Saya ada di sini di Acara Pabbajjā II DBS tahun 2016 di Chan Forest Mega Mendung.
Sungguh merupakan suatu “liburan” yang sangat unik, bawaan hanya 1 tas jinjing, tdk boleh ngobrol dengan sesama peserta “tour”, makan apa saja yg diberikan, tidur di alas yg tipis, aktivitasnya sederhana just Eat, Sleep and Meditate, plus Chanting tiap subuh dan Dhamma Talk pd malam hari. Tujuan “tour” ini hanya satu..melawan “arus keluar” dan melihat ke dalam.

Simple but not easy…tetapi manfaat dan hasil yang didapat sungguh tidak ternilai, dengan tetap menjaga sīla, keep noble silent dan selalu melihat ke dalam ternyata kita dpt menemukan yg namanya “inner peace”..efek meditasi sungguh luar biasa..perjalanan ini telah menyadarkan saya betapa pentingnya meditasi dan spt yg selalu ditekankan oleh guru kami Ashin Kheminda ” semua orang bisa bermeditasi”, telah terbukti pada diri saya yg sebelumnya “takut” untuk bermeditasi.

Terima kasih Ashin yang sudah mengorbankan waktu berharga Anda untuk melatih diri, demi membimbing kami semua dengan penuh metta dan karuna..kata terima kasih tidak pernah cukup untuk membalas jasa bimbingan Anda kepada kami (deep bow). Terima kasih yang sebesar2nya juga kepada tim panitia (volunteer) Dhammavihārī Buddhist Studies yg luar biasa dalam membantu kami, tanpa Anda semua tidak mungkin kami bs berlatih dengan baik, dan juga kepada para peserta lainnya yg sudah memberikan semangat dan inspirasi kepada saya utk berlatih, semoga jasa2 baik ini dapat menjadi pendukung utk kita semua dalam mencapai Nibbāna. Mari kita semua terus giat berlatih dan terus maju di dalam Dhamma..Sādhu 3x Magdalena Wartono (Aling)

Hartono Tan
“Happiness is from the inside” words that we often heard, yet we never realised the true meaning of the sentence. Through this Pabbajja program held by Dhammavihari Buddhist Studies and guidance from my most respectful spiritual teacher Ashin Kheminda, I now have started to understand the true meaning of those words. Anapanasati Meditation is the method that has been taught to us to develop our inner peace, to see clearly what is real (the present moment awareness of breath) and what isn’t real (our mind reliving the past or creating the future), realizing what is truly important. As my teacher said “the outside world is only a mere reflection of our inner mind or mood” these words can only be realized through Meditation. An advice that will always be my guidance throughout this life is “always look at the inside and stop focusing on the outside, because you will only suffer if you let the outside world make you suffer”. The past has past and the future has yet to come, the present moment is the only thing that will give you peace and happiness. Thank you Ashin Kheminda for the Dhamma you have taught with metta and karuna to all of us despite your dream of becoming a forest monk.

Thank you Dhammavihari Buddhist Studiess and all the volunteers that have spent their holiday time to make our training easy and joyful, may all the good deeds you all have done be fruitful in this life and next life until you attain enlightenment.

Sadhu.. Sadhu.. Sadhu.. Hartono Tan

Novi Aprilita
Terima kasih kepada guru kami Ashin Kheminda, yang telah membimbing kami dalam pelatihan meditasi anapanasati selama pabbaja berlangsung. dengan mengikuti pabbaja ini saya sekarang lebih termotivasi untuk melakukan meditasi dirumah, untuk melihat batin kedalam. sebelumnya meditasi menjadi sangat sulit buat saya krn batin masih memancar keluar melihat aktivitas panca indra. dengan mengikuti saran beliau dgn metode KRL ( kendurkan, rilex, lepaskan) dan hanya fokus thd nafas masuk dan nafas keluar, meditasi menjadi aktivitas rutin yg sy lakukan dlm kehidupan sehari2.

Terima kasih juga sy ucapkan kepada semua panitia, yang telah dengan tulus dan sabar melayani kami semua peserta pabbaja. Terima kasih juga kepada pak indra, dokter yutanti, pak kun, dan sita yang telah banyak membantu saya selama di mega mendung. Novi Aprilita

Asun Liem
Hormat, sujud dan puja pada Buddha guru Agung yang telah menemukan jalan lurus untuk kesucian untuk mengatasi kesedihan dan ratap-tangis, untuk hilangnya rasa sakit tubuh dan pikiran, untuk pencapaian jalan yang benar, untuk merealisasi Nibbāna.

Sangat beruntung bisa mengikuti retret program berdiam merenungkan tubuh di dalam tubuh dengan menghadirkan perhatian penuh pada nafas ini telah memberikan pengalaman yang luar biasa bahwa bathin yg senantiasa memancar keluar perlu di arahkan masuk ke dalam melawan arus sebagaimana layaknya dhamma yang mengalir ke dalam bathin (opaneyyiko), supaya hingga mencapai samadhi. Namun karena bathin ini belum terlatih, masih belum memahami dengan jernih, belum gigih dan tidak bisa melewati 5 rintangan bathin jadinya tidak bisa memenuhi harapan.

Ingat kata guru, cia yoo , never give up.. yang penting selalu ingat penerapan metode KRL (Kendor, Relax dan Lepaskan) pada tubuh, nafas, pikiran dan melakukan penyeimbangan 4 elemen dengan 7 faktor pencerahan maka niscaya suatu saat akan berhasil capai samadhi karena pencerahan hanya terjadi pada persekian detik.

Walaupun belum mencapai samadhi, sedikitnya mulai memahami bahwa bila tubuh ini adalah milikku maka bisa kita suruh supaya saat duduk meditasi bisa tidak sakit-sakitan atau pegal. Realitanya adalah tubuh ini tidak bisa di suruh.
Segala yang terkondisi adalah tidak kekal. Pada pengamatan akan NAFAS.
Ada nafas masuk dan nafas keluar. Ada nafas panjang, ada juga nafas pendek. Nafas masuk adalah tdk kekal begitu juga nafas keluar. (Masa ya nafas masuk terus kapan keluarnya ya).
Nafas yang panjang juga tidak kekal, akan ada waktu nya pendek. Di dalam proses nafas ada juga tubuh nafas yang terdiri dari nafas masuk di awal, tengah dan akhir kemudian jedah dan di ikuti lagi nafas keluar di awal, tengah dan akhir kemudian jedah untuk persiapan nafas masuk lagi dan setiap kali kita bernafas adalah mengulangi seperti proses bernafas tadi yakni masuk jedah keluar jedah dan begitu seterusnya.
Kehidupan ini bagaikan nafas yang akan masuk dan keluar bertumimbal lahir lagi dan lagi dan berulang lagi bagi makhluk yang masih Putujhana di dalam samsara ini.

Terimakasih dan hormat kepada Ashin Kheminda atas bimbingannya dan kesempatan yang telah diberikan (padahal masih ada waiting list peserta sekitar 40an orang).
Semoga guru senantiasa sehat dan cita luhur bisa tercapai.

Terima kasih juga kepada 68 peserta lain atas kebersamaannya dan kepada panitia (sukarelawan) yang senantiasa melayani dengan sempurna serta juga para umat donatur yang sudah menyediakan tempat, tenaga maupun materi.

Deep bow. Sādhu sādhu sādhu
Semoga semua makhluk hidup berbahagia Asun Liem

Yulia Suanda
Pabbajjā – The Most Beautiful Journey in My Life

Dengan bimbingan Ashin Kheminda, saya mengikuti Pabbajja ke-2 Dhammavihari Budhist Studies, yang dilaksanakan di Chan Forest, Mega Mendung, 22 Desember 2016 hingga 2 Januari 2017.

Baru kali ini saya merasakan perjalanan paling indah. Perjalanan menuju ke dalam batin dengan mengamati tubuh di dalam tubuh. Awalnya tidaklah mudah, seperti sapi yang diikat, pikiran saya terus-menerus berontak dan mengembara ke sana-sini.

Let Go : kosongkan perahu, tinggalkan beban. Tidak ada saat yang lebih indah selain di saat ini. Tidak di masa lalu, tidak pula di masa depan. Di perjalanan menuju ke dalam batin ini membuktikan bahwa “Hanya ada satu musuh terbesar manusia, tidak ada dua, tidak ada tiga. Musuh terbesar manusia adalah kekotoran batinnya sendiri”

Kalimat-kalimat inspirasi di atas merupakan sebagian kecil dari Dhamma Talk yang disampaikan untuk mendukung praktek meditasi Anapanasati oleh Guru kami, Ashin Kheminda.

Sungguh pengalaman yang banyak mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan. Saya telah menyadari bahwa saya begitu reaktif terhadap segala hal yang saya terima lewat panca indra ini melalui : hasrat indrawi (kamachanda), pikiran jahat (byapada), kemalasan dan kelambanan (thinā dan middha), kegelisahan dan penyesalan (uddhacca dan kukkucca) serta keragu-raguan (vicikicchā).

Satu resolusi saya di tahun 2017 ini : menjadi manusia yang lebih berkualitas batinnya, yang dipenuhi bunga-bunga cinta kasih (mettā), belas kasihan (karunā), kegembiraan apresiatif (muditā) dan keseimbangan batin (uppekkhā). Serta berjanji untuk lebih sabar, tidak lagi reaktif terhadap segala hal yang diterima melalui panca indra saya.

Saya akan terus menjadikan meditasi sebagai bagian dari kebiasaan keseharian. Semoga sekeliling saya bisa merasakan perubahan positif dari perubahan sikap mental saya ini.

The present moment – the beautiful moment.

Sādhu sādhu sādhu Yulia Suanda