Pesan Kaṭhina PJBI 2558 BE

/ 1 Dec 2015 / In Writing / By

“…Hai si Jahat (pāpima), Aku tidak akan memasuki parinibbāna sebelum Aku mempunyai bhikkhu-bhikkhu dan para murid yang sempurna, terlatih, berperilaku-baik, terpelajar, berpengetahuan-luas, memahami Dhamma,… yang mampu menyampaikan apa yang telah dipelajari dari gurunya, mengajarkannya, menyatakannya, menegakkannya, menguraikannya, menganalisanya, menjelaskannya hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran-semu yang telah muncul…”

Kalimat diatas adalah jawaban Buddha atas permintaan Māra (pāpima) untuk segera memasuki parinibbāna yang menjadi tema dari pesan Kaṭhina PJBI 2558 BE. Tema ini menjadi penting karena mengingatkan kita semua untuk terus-menerus belajar Tipiṭaka (pariyatti) dan kemudian tekun bermeditasi (paṭipatti) guna menembus Empat Kebenaran Mulia (paṭivedha) yang akan membuat kita terbebaskan dari segala bentuk penderitaan di saṃsāra. Hanya dengan demikianlah kita semua —komunitas bhikkhu, bhikknunī, upāsakā dan upāsikā (dikenal sebagai catuparisā atau empat-kumpulan/majelis) —bisa mempunyai kualitas yang diharapkan oleh Buddha tersebut diatas.

Waktu berlalu sangat cepat sekali. Diusianya yang hampir 3 tahun, PJBI telah banyak melakukan sesuatu yang bermanfaat di dalam aktifitasnya menyebarkan Dhamma. Sebagai institusi pendidikan Buddhis, PJBI akan terus konsisten untuk mengajarkan Dhamma seperti yang tertulis di Tipiṭaka dan kitab komentarnya.

Penguasaan Tipiṭaka adalah sangat penting di dalam perjalanan spiritual kita. Semua Master Buddhis di dunia ini, dari dulu dan sekarang, adalah mereka yang menguasai ajaran Buddha (pariyatti) seperti yang tertulis di dalam Tipiṭaka dan kitab komentar. Pencapaian meditatif mereka yang sangat tinggi terjadi karena didukung oleh penguasaan teks yang baik. Pariyatti tidak hanya penting untuk mendorong dan memberikan inspirasi serta petunjuk yang berharga untuk mencapai pencerahan kita, tetapi pariyatti juga sangat dibutuhkan untuk kelangsungan Dhamma itu sendiri.

Penjelasan di dalam kitab komentar dari Pāthikavagga tentang kemusnahan dari Tipiṭaka sangat bagus untuk kita cermati. Pada saat Bodhisatta meminta Āḷāra untuk mengajarkan jhāna kedelapan yaitu jhāna landasan-bukan-persepsi -dan-bukan-non-persepsi ‘nevasaññānāsaññāyatana jhāna’, Āḷāra mengatakan bahwa dia tidak mengetahuinya. Dari sana, Bodhisatta kemudian mendatangi Udaka dan meminta hal yang sama. Dan, setelah Udaka memberi informasi yang dibutuhkan untuk mencapainya, tidak lama kemudian Mahluk Agung (mahāsatta) pun berlatih dan mencapai jhāna tersebut. Demikianlah, seorang bhikkhu yang bijaksana, setelah menguasai teori (pariyatti) akan bisa mendapatkan dua yang lain, yaitu paṭipatti dan paṭivedha. Jadi, pada saat pariyatti tegak dan kokoh maka sāsana (ajaran Buddha) pun juga akan tegak dan kokoh. Dengan kata lain, tolok ukur dari kelangsungan sāsana terletak pada pariyatti. Āḷāra tidak bisa mengajarkan jhāna yang dimaksud semata-mata karena, disamping dia sendiri belum mencapainya, dia juga tidak mengetahui teorinya sama sekali. Sebaliknya, meskipun Udaka pun juga belum mencapai jhāna tersebut, tetapi karena dia mengetahui teori guna mencapai jhāna tersebut dari ayahnya, Rāma, maka dia bisa menginformasikannya kepada Bodhisatta yang kemudian berlatih sesuai petunjuk tersebut. Jadi, hanya pada saat seseorang menguasai teori (pariyatti) maka dia akan bisa berlatih dengan baik yang pada gilirannya menghasilkan pencapaian spiritual yang sangat tinggi.

Tidak ada suksesi kepemimpinan setelah Buddha. Sebaliknya, Buddha dengan sangat jelas menyatakan bahwa semua Dhamma-dan-Vinaya yang telah Beliau ajarkan akan menjadi guru kita semua setelah Buddha memasuki parinibbāna. Karena Dhamma-dan-Vinaya (Tipiṭaka) adalah pengganti Buddha sebagai guru kita maka tidaklah berlebihan apabila kita semua diharuskan mempelajari dan menguasainya dengan baik. Dengan menguasai Tipiṭaka maka kita akan mampu membedakan antara Dhamma dan adhamma (bukan dhamma).

Saat ini masih banyak ajaran-ajaran adhamma yang mengatas-namakan Buddha. Kalau tersebar melalui tulisan, biasanya ajaran seperti ini tidak mempunyai rujukan atau referensi dari kitab suci. Seandainya pun mempunyai rujukan , dikarenakan lemahnya penguasaan bahasa Pāḷi, biasanya berasal dari buku-buku terjemahan yang sering kali tidak akurat penerjemahannya. Buat mereka yang tidak menguasai kitab suci (Pāḷi), tentu saja akan kesulitan mengenali ajaran tersebut sebagai adhamma. Dan apabila adhamma terus berkembang maka Dhamma sejati akan terdesak dan akhirnya hilang. Inilah mengapa di awal tulisan ini disampaikan keinginan Buddha untuk mempunyai catuparisā yaitu komunitas bhikkhu, bhikkhunī, upāsakā dan upāsikāyang sempurna, terlatih, berperilaku-baik, terpelajar, berpengetahuan-luas, memahami Dhamma…yang mampu menyampaikan apa yang telah dipelajari dari gurunya,mengajarkannya, menyatakannya, menegakkannya, menguraikannya, menganalisanya, menjelaskannya hingga mereka mampu menggunakan Dhamma untuk membantah ajaran-ajaran-semu yang telah muncul.” Kualitas-kualitas tersebut adalah syarat yang dibutuhkan demi tegaknya ajaran Buddha. Buddha bahkan rela menunda memasuki Nibbāna-akhir hanya karena ingin memastikan kualitas tersebut telah dipunyai oleh para muridnya yaitu baik mereka yang telah menjalani kehidupan tanpa-rumah maupun juga para murid perumah-tangga. Oleh karena itu apabila kita menginginkan sāsana bisa bertahan lama di bumi ini maka kita harus terus berusaha untuk mewujudkan kualitas-kualitas yang diidam-idamkan tersebut ada di diri kita. Dan hanya untuk hal inilah, PJBI hadir di Nusantara.

Selamat hari Kaṭhina 2558 BE.

Semoga Dhamma bertahan lama di muka bumi ini.

X