K3. Khotbah tentang Bangkai – 2 (Āmagandha Sutta)

/ 29 Jul 2018 / In Senior 6 / By
Download "Āmagandha Sutta (2)" SLIDE_PS_SEN6_K3_AMAGANDHA_SUTTA2.pdf - Downloaded 72 times - 158.3 KB

 

Brahmana Tissa:

(242) Padi-padian, biji-bijian yang berasal dari rumput, kacang-kacangan, rumput hijau, umbi dan labu. Memakannya—yang didapatkan dengan cara yang benar—menginginkan kepuasan indriawi, orang-orang yang baik tidak berbicara bohong.

(243) Makan makanan yang telah dipersiapkan dengan baik, dibumbui dengan baik, diberikan oleh orang-orang lain, dipersembahkan dengan penuh hormat, makanan yang lezat, menikmati nasi terbaik; kamu makan bangkai, wahai Kassapa!

(244) Kamu berkata, wahai kerabat dari brahma, “Bangkai tidak pantas untukku.” Akan tetapi kamu menikmati nasi terbaik, dihidangkan dengan baik bersama daging-burung. Saya bertanya tentang hal ini kepadamu, wahai Kassapa, “Apakah yang kamu anggap sebagai bangkai?”

Buddha Kassapa:

(245) Pembunuhan makhluk hidup, eksekusi, pemotongan, pengikatan; pencurian, perkataan-bohong, ketidakjujuran dan penipuan; pelajaran yang tidak berguna, hidup bersama dengan istri orang lain: inilah bangkai, bukan makanan daging.

(246) Orang-orang, di sini, tanpa-pengendalian dalam hal kenikmatan-indriawi, serakah dalam hal rasa, bercampur dengan ketidakmurnian, yang memegang pandangan-nihilis, ketidakselarasan dan keras kepala; inilah bangkai, bukan makanan daging.

(247) Mereka yang kasar, keras, pemangsa punggung, pengkhianat teman, tidak mempunyai belas kasihan, arogan, pelit, tidak memberi kepada siapa pun; inilah bangkai, bukan makanan daging.

(248) Kemarahan, keangkuhan, egois, perlawanan, kemunafikan, iri hati dan membanggakan diri sendiri, sombong dan bergaul dengan orang yang tidak baik; inilah bangkai, bukan makanan daging.

(249) Mereka yang berperilaku buruk, pengemplang hutang, pemfitnah, perkataan palsu, berpura-pura di sini, orang-orang-busuk yang di sini melakukan perbuatan tercela; inilah bangkai, bukan makanan daging.

(250) Mereka yang, di sini, tidak terkendali terhadap makhluk hidup, mencuri dari orang lain dan sibuk menganiaya orang lain, tidak bermoral dan kejam, kasar, tidak bertata-krama; inilah bangkai, bukan makanan daging.

(251) Mereka yang serakah berkaitan dengan ini, menebar permusuhan, pelanggar, selalu berusaha, yang menuju ke kegelapan setelah kematian, makhluk-makhluk yang kepalanya jatuh pertama-tama di neraka; inilah bangkai, bukan makanan daging.

(252) Bukan ikan atau daging, bukan berpuasa, bukan kebugilan, bukan kepala gundul, bukan rambut beranyam, kotor atau berpakaian dari kulit yang kasar, bukan praktik kurban-api, atau banyak pertapa di dunia yang bertujuan mencapai kelanggengan, nyanyian mantra, persembahan, kurban dan pertobatan musiman, menyucikan manusia yang belum melampaui keraguan.

(253) Seseorang yang terjaga indra-indranya hendaknya mempraktikkannya dengan indria-indria yang diketahui, kokoh di dalam Dhamma, senang dalam kejujuran dan kelembutan, orang bijaksana yang telah mengatasi ikatan, yang telah menanggalkan semua bentuk dukkha, tidak ternoda oleh apa yang dilihat dan didengar.

(254) Demikianlah begawan berulangkali menjelaskan makna, Guru mantra yang telah memahaminya. Seorang suci, yang telah bebas dari bangkai, tidak terikat, sulit untuk diarahkan, telah menyatakannya dengan berbagai syair.

(255) Setelah mendengarkan kata-kata Buddha yang telah diucapkan dengan baik, yang tanpa-bangkai, penghilang semua dukkha — rendah hati memberikan hormat kepada Tathāgata dan di sana pula memberitahukan niatnya untuk meninggalkan keduniawian.