Tantangan Sebagai Umat Buddha

/ 1 Nov 2015 / In Writing / By

Disarikan dari ceramah di Buddhist Fellowship Indonesia.

Hidup sebagai umat Buddha di Negara yang mayoritas masyarakatnya non-buddhis sungguh berat, tantangannya begitu kuat. Dikabarkan bahwa banyak umat Buddha yang sudah berpindah ke penganut agama lain. Apakah hal ini menjadi masalah yang sangat penting? Apakah tantangan kita sebagai umat Buddha adalah untuk bisa menumbuh-kembangkan agama Buddha, semakin banyak umat manusia yang memeluk agama Buddha?

Saat saya menyelesaikan pendidikan di Myanmar, guru penahbis saya berpesan; “Seandainya kamu menjadi seorang bhikkhu misionaris, harap didingat bahwa kerja misionaris kamu bukan mengubah orang lain yang beragama non-Buddhis menjadi beragama Buddha. Kerja misionaris kamu adalah untuk mengubah mereka yang masih menderita agar menjadi manusia-manusia yang bahagia, mengubah mereka yang masih banyak kemelekatan menjadi bebas, bisa memahami kehidupan ini dengan baik sehingga bisa menjadi manusia yang semakin hari semakin bahagia.” Sehingga pada saat membabarkan Dhamma – didalam negeri maupun di luar negeri – tidak pernah sekali pun saya berpikir untuk mengubah mereka yang beragama non-Buddhis menjadi umat Buddha. Saya hanya menyampaikan kepada mereka bahwa inilah ajaran Buddha, ajaran yang luar biasa Ajaran yang kalau dipahami dan dipraktekkan maka kebahagiaan pasti akan kita alami dalam kehidupan ini.

Dalam perjalanan di Indonesia, hampir setiap hari berceramah, saya bisa mengerti bahwa umat Buddha belum memahami ajaran agama Buddha sebagaimana mestinya. Masih banyak umat Buddha yang menganggap ajaran ini tidak ada bedanya dengan agama lain. Secara filsafat, ajaran agama Buddha berbeda dengan agama lain. Demikian juga secara filosofis, tujuan dan sebagainya. Sejak menjadi bhikkhu, tidak sedetik pun saya berpikir ingin masuk surga. Sungguh bagus bisa terlahir di surga, namun tujuan kita adalah mencapai Nibbāna; suatu keadaan di mana sudah tidak ada lagi kelahiran dan kematian.

Pemahaman bahwa semua agama adalah sama merupakan salah satu alasan yang membuat banyak umat Buddha yang belum memahami ajaran agama Buddha akhirnya berpindah ke agama lain. Bahkan saya pernah mendengar karena semua agama sama, lebih baik memilih agama yang terbaru daripada yang kuno, agama yang sesuai dengan zaman. Agama Buddha dianggap ketinggalan zaman.

Sebagai umat Buddha, jangan pernah berkecil hati bila menjadi umat minoritas. Sudah menjadi karakteristik dari Dhamma, tidak akan banyak orang yang bisa memahami Dhamma. Sesaat setelah Pencerahan, Sang Buddha sebenarnya tidak mau membabarkan Dhamma. Setelah Brahma Sahampati mengajukan permintaan, “Di alam semesta ini, ada makhluk yang memiliki sedikit debu di mata mereka. Ajarkanlah Dhamma demi kasih saying kepada mereka”. Beliau akhirnya bersedia mengajarkan Dhamma. Anda adalah umat yang hanya memiliki sedikit debu di mata Anda. Anda bisa melihat bahwa Ajaran ini benar-benar Ajaran yang membebaskan, yang membuat Anda menjadi tuan bagi kehidupan Anda sendiri.

Sejak menjadi umat Buddha, saya tidak pernah sekali pun berdoa, meminta tolong agar saya bahagia, terhindari dari penderitaan, diberikan rejeki, Saya benar-benar menggunakan kebijaksanaan saya, hasil dari belajar dan latihan Dhamma, untuk menginvestigasi segala permasalahan kehidupan. Dengan kebijaksanaan yang diperoleh dari belajar dan berlatih, saya gunakan untuk kemajuan spiritual. Saya bisa merasakan dan melihat dengan jelas perbedaan ketika saya belum belajar dan setelah berlatih Dhamma. Dulu, saya sering diombang-ambingkan oleh masalah kehidupan, tidak bisa menerima, tidak bisa memahami. Kini saya semakin bisa menerima apa pun tanpa menghendaki sesuatu tersebut menjadi berbeda.

Mengapa harus sedih kalau ada kawan yang pindah ke agama lain? Sudah menjadi karakteristik kehidupan, ada yang keluar, ada yang masuk. Apakah hal yang demikian menjadi masalah penting bagi kita? Hal tersebut tiak ada gunanya bagi perkembangan spiritual kita.

Saya percaya bahwa masa depan agama Buddha terletak pada pendidikan, bukan terletak pada vihāra. Ajaran agama Buddha harus ditransformasikan dari kitab suci kepada umat sehingga umat bisa memahami dengan baik dan benar. Bila Anda bisa memahami ajaran Buddha dengan baik dan benar maka tidak akan ada lagi ajaran lain yang bisa mengganggu dan menggoyahkan keyakinan Anda.

Saya bisa katakan bahwa keyakinan masyarakat Myanmar terhadap agama Buddha sudah demikian kuatnya sehingga tidak bisa digoyahkan. Mereka sudah tahu bahwa agama Buddha berbeda dengan ajaran agama lain. Jangan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi keyakinan Anda. Jangan mudah terpukau pada apa yang ada di luar sana. Terimalah apa yang ada. Bahagialah dengan apa yang Anda miliki saat ini.

Apa yang sesungguhnya menjadi tantangan kita sebagai umat Buddha? Guru Agung kita menyampaikan bahwa tujuan berlatih Dhamma adalah untuk mencapai suatu kondisi batin yang tidak tergoyahkan oleh apapun permasalahan yang datang kepada kita. Batin kita mudah goyah diterjang oleh kekotoran batin. Batin kita mudah masuk ke dalam suatu keadaan emosi negatif, akhirnya membuat kita menderita.

Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai kondisi batin yang seimbang tidak mudah goyah oleh perubahan kekotoran batin sendiri? Kita harus membangun pandangan-pandangan benar, unsur pertama dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Dari pandangan benar akan muncul pikiran benar dan selanjutnya akan muncul unsur yang lain dari Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Apa itu pandangan benar? Memahami bahwa segala sesuatu yang kita alami merupakan hasil dari perbuatan kita sendiri. Segala sesuatu yang kita alami ada sebabnya. Sebabnya muncul dari kita sendiri, bukan orang lain. Pandangan benar akan berkaitan dengan kebahagiaan.

Bagaimana caranya memperoleh pandangan benar? Pertama, parathoghosa, mendengarkan dari orang lain. Misalnya mendengarkan ceramah Dhamma seperti saat ini. Kedua; yoniso manasikāra, sikap batin yang benar. Senantiasa memahami bahwa segala sesuatu yang kita alami merupakan hukum sebab akibat yang sedang berlangsung. Sebabnya, kita sendiri yang membuat. Akibatnya, kita sendiri yang menerima. Setelah memahami, kita menempatkan batin di sisi yang positif sehingga bisa menerima keadaan dengan tenang seimbang.

Kehidupan kita adalah bagaimana mengendalikan pikiran kita sendiri. Kalau Anda memikirkan hal yang positif, batin Anda akan bahagia. Sebaliknya, kalau Anda memikirkan hal yang negatif, Anda akan menderita. Kita mempunyai pilihan, apakah memikirkan hal yang positif atau negatif. Pilihan ada di tangan Anda.

Setiap saat, pikiran kita bermain di tiga bagian kehidupan – masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Kadang kita mengingat masa lalu. Kadang merancang masa depan. Kadang benar-benar bisa berada saat ini, detik ini.

Bagaimana mengendalikan pikiran saat lari ke masa lalu? Sungguh baik jika kita bisa mengingat segala kegagalan dan kesalahan yang kita buat di masa lalu agar bisa belajar dari kesalahan tersebut. Namun waktu kita sangat terbatas. Bukankah lebih baik memikirkan hal positif yang sudah kita lakukan di masa lalu. Banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk memperbaiki kekurangan yang ada. Bukankah lebih bagus bila Anda menggunakan waktu tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan kelebihan Anda?

Mengingat perbuatan baik yang dilakukan bukan suatu bentuk kesombongan. Ini adalah salah satu meditasi, latihan batin yang disebut caganusati; perenungan terhadap kemurahan hati (cāga), kedermawanan, kebajikan yang kita lakukan. Ini adalah latihan untuk bisa melihat dengan jelas bahwa perbuatan baik inilah yang merupakan sumber kebahagiaan. Saat kita merenungkan perbuatna baik di masa lalu dengan jelas maka kita bisa mengingatkan komitmen kita untuk semakin sering melakukan perbuatan baik tersebut.

Bagaimana menyikapi saat pikiran mengingat segala sesuatu yang mungkin akan terjadi di masa depan Ada dua hal yang sering terjadi; kuatir akan sesuatu – mungkin hal buruk – yang akan terjadi dan ketakutan terhadap kegagalan yang terjadi di masa depan. Dalam kondisi seperti ini, kita kembali kehilangan keseimbangan, kehilangan kebahagiaan.

Ketika kita berpikir tentang masa depan, kalau kita tidak benar-benar menjaganya, pikiran akan membesar-besarkan masalah yang ada. Mengapa kita harus takut? Bukankah kita bisa belajar dari masa lalu, yang kita kuatirkan seringkali tidak menjadi kenyataan, tidak terwujud. Kita juga bisa belajar dari masa lalu. Kehidupan kita tidak hanya sekali. Kita sudah berputar-putar di lingkungan tumimbal lahir. Dalam kehidupan sebelumnya, kita pernah lahir di alam penuh penderitaan dan kita bisa mengatasi kesulitan tersebut.

Daripada Anda takut dan kuatir tentang masa depan, bukankah lebih baik kita hidup saat ini? Bangunlah apa yang sudah Anda capai dalam kehidupan ini, khususnya kebahagiaan Anda.

Inilah tantangan hidup kita sebagai umat Buddha, bagaimana membuat batin kita agar menjadi tenang seimbang dalam kehidupan ini. Jangan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Tetapi memiliki batin yang teguh dalam Dhamma.

[Dikutip dari Majalah Connection, Agustus 2012]