Tentang Kebajikan dan Pāramī

/ 10 Oct 2017 / In Writing / By

Menjawab pertanyaan Dakamagyi tentang Quote 19 “Ketika kebajikan mengendorkan ikatan kita di saṃsāra maka pāramī melepaskannya,” di bawah ini adalah penjelasannya.

Di quote tersebut ada dua terminologi Buddhis yang hendaknya dipahami dengan baik, yaitu kebajikan (puñña) dan kesempurnaan (pāramī). Keduanya mempunyai makna dan kekuatan yang berbeda,

Sehubungan dengan hal itu, disebut sebagai kebajikan karena membersihkan pelakunya sendiri, memenuhi kecenderungannya dan menghasilkan kelahiran yang terhormat.
(Tattha punāti attano kārakaṃ, pūreti cassa ajjhāsayaṃ, pujjañca bhavaṃ nibbattetīti puñño—VibhA 142)

Itulah definisi dari kebajikan. Ada 3 poin di sana:

(1) Membersihkan arus batin dari siapa pun yang melakukannya. Ketika seseorang melakukan kebajikan dengan benar maka pada saat itu arus batin dia berada dalam keadaan yang bersih dari kilesa. Bersih disini hanya temporer karena kilesa tidak hancur/tercabut hingga ke akar-akarnya.

(2) Memenuhi atau menyempurnakan kecenderungannya untuk melakukan kebajikan. Kebajikan yang dilakukan seseorang akan memperkuat kecenderungannya untuk melakukannya lagi. Kebajikan yang dilakukan akan menjadi kondisi yang menyebabkan kebajikan yang serupa muncul lagi di kemudian hari dengan kekuatan yang lebih besar. Semakin sering kita melakukan kebajikan maka batin kita akan condong untuk terus/mudah melakukannya sehingga akhirnya menjadi sifat/karakter atau kebiasaan kita. Contoh, kebajikan berdana yang dilakukan seseorang akan membentuk karakter murah hati dia.

(3) Menghasilkan kelahiran yang terhormat atau mulia. Semua jenis kebajikan yang dilakukan, apabila berfungsi sebagai kamma produktif maka kebajikan tersebut akan membuahkan kelahiran di alam-alam yang baik. Kamma produktif tersebut juga bisa berbuah di sepanjang kehidupan dengan memberikan kehidupan yang baik, sehat, berkecukupan, terhormat, kemudahan dalam belajar Dhamma, kemudahan bertemu dengan guru yang baik, kemudahan di dalam meditasi dll.

Kita mengenal 10 landasan kebajikan yang semuanya muncul melalui kesadaran baik yang besar (mahākusala). Apabila menghasilkan kelahiran kembali, maka kebajikan ini akan melahirkan kita di alam manusia dan 6 alam dewa. Poinnya di sini adalah bahwa kebajikan tidak akan bisa membuat kita keluar dari Saṃsāra! Kebajikan berbuah di dalam Saṃsāra! Untuk penjelasan tentang 10 landasan kebajikan, silakan lihat buku Manual Abhidhamma I yang berjudul “Kesadaran,” edisi II halaman 279.

Itulah mengapa di Quote 19 saya mengatakan bahwa kebajikan mengendorkan ikatan kita di saṃsāra; tidak melepaskannya. Dengan kebajikan seseorang mendapatkan kehidupan yang baik sehingga mempermudah seseorang untuk belajar (pariyatti) dan berlatih meditasi (paṭipatti). Lalu bagaimana supaya seseorang bisa lepas/keluar dari saṃsāra? Pāramī-lah jawabannya! Pāramī membantu penembusan Empat Kebenaran Mulia (paṭivedha), pencapaian magga, phala dan Nibbāna. Apa itu pāramī? Jawabannya, silakan mendengarkan ceramah saya tentang Pāramī yang sudah diunggah di Youtube oleh Dhammavihāri Buddhist Studies…:)

Dengan mettā,
Ashin Kheminda.

Tambahan:
Syarat suatu perbuatan disebut sebagai pāramī adalah terpenuhinya 5 unsur ini: perbuatan tersebut haruslah terbebas dari nafsu-keinginan (taṇhā), kesombongan (māna) dan pandangan-salah (diṭṭhi). Perbuatan tersebut juga dilakukan atas dasar belas kasih (karuṇā) dan disertai dengan keterampilan dalam hal cara melakukannya (upāyakosalla).

X