Tentang Omong Kosong

/ 10 Oct 2017 / In Writing / By

Samphappalāpa (omong kosong) adalah kehendak yang tidak baik yang memulai suatu usaha baik melalui tubuh maupun ucapan untuk menyampaikan informasi tentang sesuatu yang tidak bermakna. Omong kosong menjadi sedikit tercela apabila dilakukan dengan tidak menggebu-gebu; sangat tercela apabila dilakukan dengan menggebu-gebu. Komponennya ada dua, yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk cerita yang tidak bermanfaat seperti halnya cerita bhār+++++ddha (perang antar keluarga bhār+++) dan penculikan Sī+a dll; dan juga menceritakan cerita-cerita seperti itu. (anatthaviññāpakakāyavacīpayogasamuṭṭhāpikā akusalacetanā samphappalāpo. so āsevanamandatāya appasāvajjo, āsevanamahantatāya mahāsāvajjo. tassa dve sambhārā bhār+++++ddhasī+āharaṇādiniratthakakathāpurekkhāratā, tathārūpīkathākathananti — MA 1. 210)

Omong kosong adalah pembicaraan yang tidak ada gunanya (samphaṃ), nonsense (palapati) dan tiada maknanya (niratthakaṃ). (SA 2. 147)

Itulah penjelasan tentang omong kosong yang bisa kita temukan di kitab-kitab komentar. Saya tidak perlu menguraikannya lebih lanjut karena penjelasan di atas sudah sangat jelas. Saya tidak menerjemahkan samphapalāpa sebagai gosip karena istilah tersebut bisa merujuk pada cerita yang benar-benar terjadi; sementara samphapalāpa merujuk lebih pada cerita-cerita karangan, hasil kreasi pengarang, sutradara dll. Walaupun di atas disampaikan bahwa bertindak (melakonkan) atau menceritakan cerita-cerita di atas adalah samphapalāpa, akan tetapi apabila seseorang melakukannya dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman tentang Dhamma, seperti misalnya kemarahan dan kebencian adalah tidak baik, cinta kasih adalah baik dll, maka hal tersebut adalah baik adanya. Dengan kata lain, yang perlu dihindari adalah larut dalam cerita-cerita yang tidak ada gunanya, nonsense dan tidak bermanfaat untuk perkembangan spiritual, yaitu meningkatnya kemurahan-hati, cinta-kasih, kebijaksanaan, belas-kasih, kesabaran dan lain-lain.

Apabila penjelasan dari kitab komentar di atas disesuaikan dengan zaman modern maka omong kosong adalah kehendak untuk bertindak (melakonkan) atau bercerita tentang sinetron, komik, drama, film dan sejenisnya yang tidak sesuai dengan fakta/kebenaran (fiksi); tidak bermanfaat untuk perkembangan spiritual serta tidak mendukung kemajuan latihan-latihan kita. Cerita-cerita seperti ini tidak penting dan hendaknya dibuang jauh-jauh dari memori supaya tidak mengotori hati dan pikiran kita. Sekali lagi, melakonkan atau menceritakan cerita-cerita seperti itu baik adanya apabila kita menghubungkannya dengan Dhamma.

Apa pun itu, daripada membahas cerita-cerita yang tidak ada maknanya maka lebih baik kita bercerita/berdiskusi tentang Dhamma, berjuang untuk menghafalkannya dan terus menerus memperbaiki latihan-latihan kita. Dengan demikian kita terhindar dari salah satu dari sepuluh jalan kamma buruk (dasākusala kammapatha), yaitu omong kosong. Semoga penjelasan ini cukup jelas. Selamat berlatih.

Dengan mettā,
Ashin Kheminda.

X