Parābhavasutta 93-94

25 Feb 2019

No.18/IV/Feb/2019

93) Demikianlah, kami mengetahui hal ini. Inilah sebab pertama untuk keruntuhan. “Beritahukanlah yang kedua, Begawan. Apakah sebab untuk keruntuhan?”

94) “Orang jahat disukai; tidak memperlakukan orang yang baik sebagai yang disukai; menyenangi ajaran orang jahat. Inilah sebab untuk keruntuhan.

Yang dimaksud dengan kalimat orang jahat disukai adalah seseorang lebih suka berkumpul dengan orang yang tidak baik, yang suka berucap tidak baik dan kasar, yang suka berbuat tidak baik, melanggar sīla dan sebagainya. Jadi, manusia cenderung berkumpul atau bersahabat dengan orang yang mempunyai elemen atau sifat yang menyerupai dirinya. Orang-orang yang senang mempraktikkan sīla akan senang berkumpul bersama mereka yang juga mempraktikkan sīla. Mereka yang suka belajar Dhamma atau bermeditasi akan berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai sifat seperti itu juga. Sebaliknya, orang yang suka melanggar sīla juga akan senang berkumpul dengan orang yang suka melanggar sīla.

Sedangkan yang dimaksud dengan tidak memperlakukan orang yang baik sebagai yang disukai adalah tidak memperlakukan orang yang baik sebagai orang yang disayang, menyenangkan, disukai dan berkenan di hati (piye iṭṭhe kante manāpe). Tidak memperlakukan mereka sebagai sumber inspirasi atau guru untuk menimba ilmu, tetapi sebaliknya malah menyukai orang yang tidak baik, menyukai orang yang pemarah, yang suka berbicara dan berperilaku kasar maka inilah sebab dari keruntuhan atau kehancuran kehidupan seseorang.

Yang termasuk sebagai ajaran orang jahat adalah 62 pandangan-salah (pandangan yang bersifat spekulatif) atau 10 jalan kamma buruk. Orang yang menyenangi ajaran orang jahat akan menyetujui dhamma yang jahat tersebut (taṃ asataṃ dhammaṃ roceti); dia mencintai (piheti), beraspirasi (pattheti) dan bahkan mempraktikkannya (sevati).

Untuk mengalami kehancuran maka tiga kualitas tidak baik ini—menyukai orang jahat, tidak memperlakukan orang baik sebagai yang disukai dan kemudian menyenangi ajaran orang jahat—tidak harus dilakukan tiga-tiganya. Di dalam Sutta ini meskipun Buddha menyebutkan beberapa sebab kehancuran, tetapi hendaknya dipahami bahwa jika seseorang hanya melakukan satu dari banyak sebab kehancuran yang disampaikan oleh Buddha, itu pun sudah cukup untuk membuat hidupnya hancur.

Seseorang yang melakukan sebab-sebab kehancuran seperti yang tadi sudah disebutkan, tidak hanya menuju ke arah kehancuran di dalam kehidupannya sendiri, tetapi juga sesungguhnya dia tidak berkembang di dalam kehidupan ini. Sangat disayangkan bila seseorang menyia-nyiakan kehidupan yang berharga ini dengan melakukan hal-hal yang tidak baik hanya semata-mata karena ketidaktahuan, tidak tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kompilasi Ceramah tentang SUTTANTA I, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2019. Hlm 29-34.