Parābhavasutta 99-100

18 Mar 2019

No.21/III/Mar/2019

99) Demikianlah, kami mengetahui hal ini. Inilah sebab keempat untuk keruntuhan. “Beritahukanlah yang kelima, Begawan. Apakah sebab untuk keruntuhan?”

100) “Apabila seseorang menipu seorang brahmana, pertapa atau ‘pengemis’ lainnya dengan kata-kata yang tidak benar; inilah sebab untuk keruntuhan.”

Yang dimaksud dengan seorang brahmana adalah seorang yang telah menjauhkan diri dari kejahatan-kejahatan (pāpānaṃ bāhitattā). Artinya, dia adalah seorang yang telah menempuh kehidupan yang menjunjung tinggi moralitas. Meskipun seorang brahmana belum tentu makhluk suci tapi dia adalah seorang yang sīla atau akhlaknya baik. Disebut sebagai seorang pertapa karena dia telah menenangkan (samitattā) batin. Mereka bisa saja adalah orang suci, bisa juga orang yang sedang menuju ke sana. Mereka berjuang keras untuk menghancurkan emosi-emosi negatif, yang mencoba untuk menghancurkan segala bentuk pelekatan terhadap kehidupan ini; dan karena itulah mereka disebut sebagai pertapa. Terhadap orang-orang yang seperti ini hendaknya kita menghormatinya karena mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk mencapai kesuciannya. Mereka berjuang untuk sesuatu yang lebih tinggi, berjuang untuk sesuatu yang lebih mulia, yaitu untuk membersihkan hati dan pikirannya. Dengan demikian makhluk seperti ini adalah makhluk yang akan bisa memberikan manfaat untuk kemanusiaan. Makhluk yang seperti ini adalah panutan kita.

Selanjutnya, yang disebut sebagai pengemis (yācanaka) menurut kitab komentar adalah seorang yang mengembara, meninggalkan kehidupan rumah tangga, berjuang untuk memurnikan batin atau pikirannya dalam aliran apa pun. Jadi di sini tidak semata-mata pengemis yang meminta makanan atau uang tetapi adalah mereka yang benar-benar mengembara dan merupakan pejuang spiritual. Menurut kitab komentar arti dari pengemis adalah siapa pun peminta-minta (yaṃkiñci yācanakaṃ). Seorang bhikkhu juga disebut sebagai pengemis, yaitu seorang pengembara spiritual yang meninggalkan kehidupan rumah. Dia adalah orang yang hidupnya tergantung pada kemurahan hati orang lain; itulah mengapa dia adalah pengemis.

Ada dua hal penting penyebab keruntuhan ini yaitu menipu dan ingkar janji. Menipu artinya dari awal orang tersebut memang memberikan undangan hanya berupa basa-basi saja, tidak benar-benar mempunyai kehendak untuk memenuhinya. Sedangkan yang dimaksud dengan ingkar janji adalah pada awalnya orang tersebut memang mempunyai maksud yang benar dan baik, tetapi seiring berjalannya waktu, dikarenakan kondisi ekonomi yang menurun dan lain sebagainya, orang tersebut menjadi ragu namun tidak sempat mencabut undangannya. Ketika bhikkhu yang menerima undangannya membutuhkan sesuatu malah diberikan barang dengan kualitas yang tidak sesuai; contohnya dibelikan obat, makanan atau jubah yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

Seorang yang melakukan hal tercela yaitu menipu dan ingkar janji di sini—di kehidupan ini—akan lahir di alam tidak bahagia di kehidupan berikutnya. Dia gagal untuk mendapatkan kelahiran yang baik di sini dan nanti.

Sumber: Ashin Kheminda, Buku Kompilasi Ceramah tentang SUTTANTA I, Dhammavihārī Buddhist Studies, Jakarta, 2019. Hlm 52-56